KONTROVERSI PEMBERIAN GELAR PAHLAWAN BAGI SOEHARTO

Jika  kita membicarakan tentang perjuangan, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah profil seorang pahlawan. Predikat pahlawan umumnya diberikan pada figur yang memberikan  dampak positif bagi masyarakat luas. Kata pahlawan dalam berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu pahla dan wan. Pahla mengandung makna buah, sedangkan wan sebutan bagi orang yang bersangkutan. Pengertian secara luas, pahlawan adalah orang yang menghasilkan karya atau pejuang gagah berani yang mengorbankan jiwa raga untuk kepentingan bangsa dan negara.  Definisi pahlawan menurut UU No. 20/2009 adalah:

“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada WNI atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah NKRI yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Pahlawan nasional berarti orang yang  berjasa kepada bangsa. Oleh karena itu, penilaian yang sama bahwa  orang tersebut benar-benar berjasa harus diberikan oleh seluruh komponen masyarakat. Namun, tidak selamanya pengajuan seseorang menjadi pahlawan nasional berjalan mulus. Hal ini terjadi karena sifat penilaian yang diberikan lebih bersifat subjektif dan normatif. Subjektif, karena tergantung pribadi seseorang dalam memberikan penilaian, kedekatan emosional maupun berdasarkan pengalaman masa lalu ketika tokoh tersebut  berkuasa. Normatif, karena arti kata “berjasa” sangat beragam interpretasinya.

Silang pendapat seperti itulah yang kini kembali mengemuka ketika Kementerian Sosial mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden Soeharto. Para aktivis penegakan HAM menilai hal tersebut sangat menyakiti hati para korban pelanggaran HAM yang hingga kini tak terpulihkan hak-haknya.
Harus diakui, selama Soeharto berkuasa  32 tahun telah banyak kemajuan yang dialami negeri ini. Namun, kita pun tidak bisa begitu saja mengenyampingkan berbagai macam pelanggaran HAM berat yang dilakukannya. Oleh karena itu, hal tersebut kita serahkan pengkajiannya pada dewan yang telah ditetapkan  dengan memerhatikan aspirasi masyarakat.

Didorong oleh pameo bahwa bangsa yang besar adalah mereka yang pandai menghargai para pahlawannya, maka kini bangsa Indonesia memiliki jumlah pahlawan terbesar di dunia, yaitu 184  pahlawan nasional. Kesimpulan tersebut  tentu terlalu gegabah. Di  Asia Tenggara, hanya Vietnam dan Indonesia yang memiliki catatan kepahlawanan saat meraih kemerdekaannya. Namun, s kinerja ekonomi Vietnam kini berkembang pesat. Maka, dapat disimpulkan  banyaknya pahlawan tidak serta-merta memberi kemudahan bagi suatu negeri untuk mewujudkan dirinya menjadi suatu bangsa yang besar.

Jika demikian, apakah juga dapat  dinyatakan, negeri ini tidak membutuhkan pahlawan untuk menjadi bangsa yang besar? Kesimpulan semacam ini juga merupakan lompatan terlalu ekstrim. Khusus bagi negeri yang pernah mengalami masa kolonial panjang seperti Indonesia,  kehadiran pahlawan dalam batas-batas tertentu masih dibutuhkan. Hal tersebut karena  tradisi pelestarian sejarah pahlawan di Indonesia bersifat amat fungsional, yaitu membentuk identitas kebangsaan.

Oleh karena itu, pada zaman serba kompleks ini dibutuhkan pahlawan di segala bidang. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar kemudian  merasa harus “berbuat”. Pahlawan tidak  perlu memperoleh pengakuan dan penghargaan formal. Orang cukup berbuat baik dan melawan hal-hal yang mencelakakan untuk jadi pahlawan.  Justru letak kepahlawanan adalah ketanpa-pamrihan. Hal tersebut sejalan dengan pengertian pahlawan menurut SBY, yaitu:

“Pahlawan adalah orang yang tidak egois dan berbuat sesuatu yang luar biasa. Penghormatan kepada pahlawan tidak harus selalu dilihat hasilnya. Bahkan jika gagal sekalipun, kemauan kerasnya untuk berbuat sesuatu untuk orang lain akan terus dikenang. Jadi, kebesaran seorang pahlawan tidak diukur dari hasil yang dicapai, melainkan kesediaannya berkorban untuk sesamanya.”

Dengan demikian secara implisit beliau menyatakan bahwa setiap orang  mampu menjadi pahlawan dengan jalan memberikan kontribusi yang berguna bagi orang lain. Pada dasarnya jiwa kepahlawan telah terdapat  dalam diri kita. Itulah yang akhir-akhir ini kembali  diingatkan melalui  berbagai training pengembangan menuju keunggulan diri (self excelence). Teknik visualisasi, afirmasi, otosugesti, circle of excellence dan sederet teknik lain digunakan untuk “membangun” kembali jiwa kepahlawanan dalam diri kita.Image