Perspektif Agresi Frustasi dalam Memandang Tingkah Laku Agresif Suporter Sepak Bola atas Kekalahan Tim yang Didukungnya

Image

Pendahuluan

Sepak bola merupakan olahraga yang banyak diminati oleh masyarakat dari  berbagai kalangan tanpa memandang kasta dan usia. Selain itu, adanya kemajuan  teknologi  menyebabkan  sepak bola  dapat  dinikmati  dengan mudah oleh  masyarakat,  baik  di  Indonesia  maupun  di  negara-negara  lain.  Berbagai faktor tersebut yang menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang digemari oleh banyak  orang di berbagai tempat. Berdasarkan  pemahaman,  penonton  dapat  diklasifikasikan  dalam  dua kelompok, yaitu   penonton   yang   hanya   sekedar   menikmati   pertandingan sepak bola  tanpa  memihak  atau  mendukung  salah  satu  tim  sepak bola  serta kelompok penonton yang mendukung dan memberikan semangat kepada tim sepak bola yang mereka dukung atau disebut suporter.

Suporter merupakan suatu bentuk kelompok sosial yang secara relatif tidak teratur dan terjadi karena ingin melihat sesuatu (spectator crowds).  Kerumunan semacam ini hampir sama dengan kelompok  penonton, akan tetapi perbedaannya adalah spectator crowds merupakan kerumunan penonton yang tidak direncanakan, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada umumnya tidak terkendali.  Sedangkan  suatu  kelompok manusia tidak hanya tergantung pada adanya interaksi di dalam kelompok itu sendiri,  melainkan  juga  karena adanya  pusat  perhatian  yang  sama.  Fokus perhatian yang  sama dalam kelompok penonton yang disebut suporter dalam hal  ini adalah tim  sepak bola yang  didukungnya.

Keberadaan suporter sepak bola mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya   waktu dan  kompleksitas  masyarakat  secara  keseluruhan. Sebelumnya, suporter sepak bola terbatas pada kelompok  pendukung masing-masing klub, namun sejak tahun 1995 suporter sepak bola tersebut terorganisir dan mempunyai nama kelompok suporter pada masing-masing klub. Bonek merupakan salah satu contoh kelompok suporter dari Tim Persebaya yang lahir pada tahun 1995 dan mengawali  kelompok-kelompok suporter  yang lain. Bonek (bondho nekat) adalah ekspresi dari kelompok masyarakat yang menempatkan kebebasan suporter di antara berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Ternyata lahirnya Bonek menginspirasi munculnya kelompok-kelompok suporter klub  sepak bola  lainnya. Beberapa di antaranya yaitu Persija Jakarta dengan Jakmania, PSIS Semarang dengan Panser Biru, PSMS Medan dengan Mac’s Man, Persela dengan Persela, Arema dengan Aremania, dan sebagainya.

Akan tetapi, tidak jarang para suporter tersebut melakukan tingkah laku agresif saat menyaksikan suatu pertandingan. Bonek mengamuk ketika Persebaya Surabaya melawan Arema Malang pada September 2006 di Stadion 10 November Surabaya dalam pertandingan Copa Dji Sam Soe. Ratusan bahkan ribuan Bonek rusuh di dalam stadion dan kekacauan yang lebih parah terjadi di luar stadion. Bonek juga membakar mobil siaran salah satu stasiun televisi serta merusak dan menghentikan kendaraan bermotor yang menggunakan plat N (Malang). Aksi yang dilakukan oleh Bonek tersebut dapat diredakan oleh ratusan polisi setelah dua jam.

Pada tanggal 24 Agustus di tahun yang sama, kerusuhan juga terjadi di stadion Siliwangi Bandung. Meskipun Persib Bandung memenangkan pertandingan melawan PKT Bontang (1-0), ribuan Bobotoh (suporter Persib Bandung) mengecam wasit Jimmy Napitupulu yang dinilai kurang bijak dalam memimpin pertandingan. Pelatih Persib Bandung, Juan Paez juga meneriakkan makian dalam bahasa Chili pada wasit Jimmy Napitupulu serta pelatih PKT Bontang, Zulkarnaen yang juga memprotes sikap wasit yang tidak mengesahkan gol yang ditendang Sebastian (pemain PKT Bontang) pada babak kedua.

Negara-negara di benua Eropa banyak melahirkan para pemain dan tim sepak bola profesional, serta menggelar acara pertandingan internasional yang melibatkan pemain kelas dunia untuk bermain di Liga Eropa serta disaksikan oleh ribuan penonton. Dalam Liga Eropa sering terjadi kerusuhan dalam pertandingan, terutama di Inggris. Pertengahaan 1980 kerusuhan menjadi hal yang umum di Inggris. Banyaknya organisasi Hooligans yang dibentuk oleh para suporter, membuat kerusuhan menjadi hal yang rutin di setiap pertandingan. Hal tersebut semakin diperparah dengan banyaknya suporter yang berkumpul di pub sebelum pertandingan dan berangkat dalam keadaan mabuk.

Inggris mempunyai catatan sejarah terpanjang dengan kerusuhan yang pernah terjadi. Peristiwa yang paling dramatis yaitu di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. Suporter Liverpool  (Inggris) menyerang dengan menyeberangi pagar pembatas. Suporter Juventus (Italia) saat itu panik dan ingin segera meninggalkan tempat itu, tetapi terhalang oleh tembok besar. Tiba-tiba tembok besar itu roboh dan menghantam suporter Juventus, serta menewaskan 39 orang dari Italia. Suporter Juventus yang ingin membalas perilaku suporter Liverpool dihadang oleh aparat kepolisian Belgia, yang menyebabkan tawuran antara polisi dan suporter Juventus.

Tawuran suporter di Inggris juga sangat banyak dan tidak sedikit korban yang  ditimbulkannya. Suporter yang suka membuat keributan di Indonesia dikenal dengan istilah Bonek, sedangkan  di  Inggris  lebih  dikenal  dengan  Hooligans. Hooligans  maupun  Bonek  merupakan  sebuah  kumpulan   yang  tidak resmi  dari  beberapa  suporter  yang  seringkali menciptakan keributan antarsuporter. Adapun agresivitas suporter sepak bola di Indonesia mencapai puncaknya pada saat stadion Arema dan stadion Persebaya dibakar dan dihancurkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pertandingan sepak bola telah melibatkan emosi para suporternya dan tidak jarang melahirkan berbagai aksi agresivitas baik antar penonton maupun antar pemain, misalnya tawuran. Suporter yang tawuran seringkali menimbulkan banyak korban. Keprihatinan tersendiri bagi kalangan   orang-orang   yang   berkecimpung dalam sepak bola.  Olahraga  yang  bertujuan menjunjung  tinggi fair play dan sportivitas yang  tinggi ini kemudian ternoda  oleh  berbagai  kasus kekerasan.

Pembahasan

Tim suporter tentu mengharapkan kemenangan dan kejayaan tim yang didukungnya. Kemenangan merupakan dimensi tujuan setiap suporter dalam menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, dimensi tujuan itu menjadi kemutlakan dan menimbulkan perasaan frustasi jika tidak sesuai dengan harapan. Agresi dapat muncul sebagai reaksi terhadap rasa frustasi. Rasa frustasi menyebabkan energi dalam diri individu maupun komunitas sosial meningkat dan disalurkan melalui tingkah laku agresif.

Sepak bola, tidak bisa dipungkiri merupakan olahraga yang paling digemari di seluruh dunia. Sepak bola memicu emosi yang sangat kuat dan sifat pertandingannya itu mendorong tingkah laku agresif kolektif atau agresi bersama. Euforia yang dimunculkan oleh olahraga yang telah berusia tiga abad ini sangat luar biasa. Dukungan yang diberikan oleh suporter terhadap tim yang didukungnya seringkali melahirkan sikap yang berlebihan atau fanatik. Hal ini menumbuhkan harapan yang berlebihan pada diri para suporter. Mereka berharap tim yang didukungnya selalu memenangkan pertandingan. Harapan-harapan ini seringkali  menimbulkan  sikap-sikap  yang  tidak  lagi logis. Berbagai cara dilakukan untuk melihat timnya memenangkan pertandingan. Fanatisme para suporter akan melahirkan interaksi yang kurang harmonis antarsuporter yang berbeda. Interaksi ini membawa konsekuensi lahirnya tingkah laku agresif antarsuporter.

Berdasarkan kasus-kasus dalam bagian pendahuluan, individu yang mempunyai fanatisme berlebihan pada suatu tim sepak bola yang berkumpul dalam situasi massa maka individu yang bersangkutan akan mudah terpengaruh dan mengikuti perbuatan kelompok, tanpa mempertimbangkan benar tidaknya perbuatan tersebut. Selain itu, seseorang dalam situasi massa lebih cenderung bertindak agresif karena terjadi deindividuisasi. Individu merasa menjadi bagian dari massa dan kehilangan identitas personalnya. Sikap fanatik merupakan sifat bawaan atau fitrah manusia. Setiap individu memiliki tingkat fanatisme yang berbeda-beda.

Fanatisme juga dipandang sebagai penyebab menguatnya perilaku kelompok, tidak jarang juga dapat menimbulkan agresi. Sebagai bentuk kognitif, individu yang fanatik akan cenderung kurang terkontrol dan tidak rasional. Apabila bentuk kognitif ini mendasari setiap perilaku, peluang munculnya agresi akan semakin besar. Fanatisme merupakan suatu antusiasme pada sesuatu, sehingga menimbulkan agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya.

Dalam psikologi, pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif  lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. Tindakan agresi merupakan tindakan yang disengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan tertentu. Perilaku-tingkah laku agresiff selalu dipersepsi sebagai kekerasan terhadap pihak yang dikenai perilaku tersebut. Pada dasarnya tingkah laku agresiff pada manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya.

Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi tingkah laku agresiff suporter sepak bola. Pertama, kepemimpinan wasit dalam pertandingan. Hal ini menyebabkan suporter kesebelasan melampiaskan kekesalan dan ketidakpuasannya melalui tingkah laku agresif. Kedua, permainan kasar tim lawan yang pada umumnya ditanggapi dengan melempari pemain yang tersebut maupun mencemoohnya. Ketiga, kekalahan tim yang didukung. Sebagian besar suporter suatu kesebelasan sepak bola pada umumnya belum cukup dewasa untuk menerima kenyataan hasil pertandingan. Suporter sepak bola akan merasa puas dan senang jika kesebelasan yang didukungnya menang. Sebaliknya, suporter sepakbola akan kecewa, kurang puas, dan merasa terhina jika kesebelasan yang didukung mengalami kekalahan. Tindakan tersebut dapat muncul apabila faktor-faktor berupa situasi atau kejadian yang relevan dengan konflik yang dialami oleh individu dan kejadian sekecil apapun dapat memicu munculnya tindakan agresif.

Suporter adalah kumpulan orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk memasuki komunitas yang pengaruhnya akan berdampak pada timbulnya tingkah laku agresiff. Kerusuhan tersebut dilakukan karena adanya rasa frustrasi dan tekanan dari kelompoknya sendiri. Pada kenyataannya, karena rasa frustasi atas kekalahan tim yang didukungnya maka sebagian besar suporter melakukan hal-hal negatif, misalnya bentrok dengan suporter lain, membuat kerusuhan, membakar stadion dan isinya, serta menyerang masyarakat sipil atau aparat keamanan.

Dari berita-berita yang dihimpun dalam media massa, sebagian besar korban kerusuhan antar suporter pada dasarnya tidak mengetahui inti permasalahan dari kerusuhan tersebut. Mereka hanya mengikuti arus kelompoknya dan mengedepankan rasa solidaritas tanpa mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkannya. Kerusuhan yang telah memakan banyak korban ini sebenarnya dipicu oleh sikap agresif yang muncul akibat rasa marah para suporter karena adanya serangan awal dari salah satu pihak baik berupa ejekan, makian, lemparan botol, hingga lemparan petasan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian rumusan masalah yang dipaparkan pada bagian pendahuluan dan analisis dari pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

1)   terdapat hubungan positif antara teori agresi frustasi dengan tingkah laku agresiff suporter sepak bola atas kekalahan tim yang didukungnya. Karya tulis ini disadari jauh dari kesempurnaan karena masih banyak kekurangan. Satu di antaranya adalah meskipun agresi dapat muncul sebagai reaksi terhadap rasa frustasi, teori tersebut menerangkan bahwa adanya rasa frustasi tidak selalu berhubungan langsung dengan harapan kemenangan yang tidak tercapai dari tim sepak bola yang didukung sehingga memicu tingkah laku agresif. Dengan demikian, teori tersebut kurang tepat diterapkan dalam kondisi lain karena terdapat beberapa faktor yang dapat melatarbelakangi tingkah laku agresiff suporter sepak bola selain karena kekalahan tim yang didukungnya.

2)   terdapat perbedaan antara tingkah laku agresif di liga pertandingan negara-negara Eropa dibandingkan dengan di Indonesia. Di liga pertandingan negara-negara Eropa, sering terjadi kerusuhan yang menewaskan puluhan suporter. Di Indonesia, kerusuhan yang menewaskan suporter dalam pertandingan sepakbola jarang ditemukan. Akan tetapi, sebagian besar penonton sepak bola merupakan sekelompok orang-orang yang fanatik terhadap tim sepak bola yang didukungnya. Bahkan para penonton ini rela melakukan tindak apa saja demi tim yang didukungnya. Tindakan-tindakan tersebut misalnya, berkelahi dengan para penonton pendukung kesebelasan lain, mencemooh atau melempar wasit yang dianggap tidak adil dalam memihak lawan, dan bahkan  melawan pihak keamanan.

Referensi:

Rochmah, Siti., Djamil, Misbach., & Rochayah. 1996. Individu dalam Masyarakat: Buku Teks Mengenai Psikologi Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Moyer, KE. 1968. Kinds of Aggression and their Physiological Basis. Communications in Behavioral Biology. [Versi elektronik]. Artikel. 2A:65-87. (Diakses pada 4 Januari 2011, pukul 08.57 WIB dari http://tempointeraktif.com/)

Sugiantoro, Hendra. (2010, 2 Maret). Memutus Mata Rantai Anarki Suporter. [Versi elektronik]. Artikel. (Diakses pada 4 Januari, pukul 09.03 dari http://tempointeraktif.com/)

Siregar, Aminuddin. 2009 . Hubungan antara Frustasi dengan Agresivitas pada Suporter Sepak Bola Pasoepati. [Versi elektronik]. Skripsi. Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. (Diakses pada 4 Januari 2011, pukul 11.00 WIB)

Prameswari, Anggun., Setiawan, Asep,. Harli, Chyntia,. Rabiah, P. Dessy., Pratiwi, Niken. 2010. Konflik Suporter Sepak Bola dalam Psikologi Kelompok. [Versi elektronik]. Makalah, tidak diterbitkan. (Diakses pada 4 Januari 2011, pukul 11.01 WIB)

Suroso., Santi, Dian Evita., & Pramana, Aditya. 2010. Ikatan Emosional Terhadap Tim Sepakbola dan Fanatisme Suporter Sepakbola. [Versi elektronik]. Jurnal Penelitian Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, 01( 01), 23-37. (Diakses pada 4 Januari 2011, pukul 11.03 WIB)