Image

Hiruk pikuk pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton jangan sampai menelantarkan kehendak kita bersama membangun masyarakat madani. Yakni masyarakat yang bersendikan, berkerangka serta bersosok hidup kemanusiaan yang inklusif (terbuka), yang memahami dan menghayati perbedaan justru untuk memperkokoh serta mewujudkan kebersamaan.

Pembangunan masyarakat madani bukan saja penting, melainkan ia merupakan kondisi serta jaringan yang harus menyertai terbangun dan dapat bekerjanya demokrasi, penegakan hukum, persamaan tanpa diskriminasi, serta keadilan sosial dan perdamaian.

Gerakan reformasi beserta pendukung, promotor dan aktivitasnya tidak salah mengarahkan perjuangan kepada kekuatan eksekutif, legislatif dan yudikatif serta bisnis ekonomi. Juga diarahkan kepada berbagai perangkatnya, termasuk lembaga dan perangkat keamanan. Namun jangan pula dialpakan tugas lain yang mungkin kurang spektakuler, kurang memperoleh panggung, kurang seketika hasilnya yakni pengembangan dan pembangunan masyarakat madani.

Pemahaman tentang masyarakat madani menurut kita adalah pengembangan dan pembangunan masyarakat yang sekali lagi membangun komunitas yang tidak pecah secara eksklusif oleh perbedaan pandangan dan kepentingan. Perbedaan justru disadari sebagai pentingnya komunitas masyarakat yang inklusif, toleran, terbuka dan berbudaya, serta harus kita kembangkan dan kita bangun.

Bentuk nyata masyarakat madani dapat dilihat dari kemampuan masyarakat mengembangkan musyawarah dan toleransi. Mereka juga telah mampu mengembangkan budaya kebebasan berpendapat, menghormati perbedaan dan menghargai keberagamaan.

Upaya merealisasikan wacana masyarakat madani juga menjadi perhatian besar dari organisasi ‘Aisyiyah. Sebagai organisasi sosial keagamaan, tampaknya ‘Aisyiyah merespon carut-marutnya peradaban manusia di era global dengan melakukan ijtihad untuk membangun peradaban yang luhur. Dalam kenyataan di lapangan, upaya keterlibatan dan kepedulian ‘Aisyiyah terhadap problematika bangsa yang semakin kompleks tercermin dari pertumbuhan dan perkembangan kualitas maupun kuantitas amal usahanya dari tahun ke tahun.

Realitas gerakan serta manfaat ‘Aisyiyah selama ini telah dapat dirasakan oleh masyarakat luas terlihat dari banyaknya amal usaha yang dilakukan. Sebuah cita-cita yang didambakan oleh Nyi Ahmad Dahlan selangkah demi selangkah dan setahap demi  setahap mulai diwujudnyatakan. Satu abad bukanlah waktu yang singkat untuk suatu organisasi yang masih tetap eksis. Hal ini mengindikasikan sejauh mana estafet gerakan Aisyiyah telah berjalan diiringi dengan sistem organisasi yang solid dan mekanisme kerja yang terstruktur.

Eksistensi ‘Aisyiyah sebagai sebuah organisasi serta langkah yang ditempuhnya dalam upaya mewujudkan masyarakat madani merupakan salah satu indikator sebagai identitas yang dimiliki untuk mengidentifikasi ada tidaknya perkembangan masyarakat madani. Relevansi indikatornya yaitu termanifestasi dalam organisasi yang dipenuhi oleh gerakan ‘Aisyiyah. Hal tersebut ditinjau dari prinsip-prinsip organisasi dipegang oleh masyarakat madani sebagai perwujudan identitasnya secara material.

Hal tersebut berarti  masyarakat madani bukan merupakan individu- individu yang partisipatif dan otonom saja, tetapi terdiri dari sekumpulan individu warga yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi yang memiliki tatanan yang menjamin anggotanya untuk mampu mengekspresikan diri, mengembangkan minat, saling menukar informasi, memediasi perbedaan-perbedaan dan menciptakan pola-pola hubungan yang stabil. Di samping itu, mereka juga tertata dalam organisasi modern yang mengembangkan nilai-nilainya sendiri secara konsisten.

Cita-cita menuju masyarakat madani juga sejalan dengan visi pengembangan ‘Aisyiyah, yaitu “tercapainya usaha-usaha Aisyiyah yang mengarah pada penguatan dan pengembangan dakwah secara lebih berkualitas menuju masyarakat madani, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” yang merupakan penjabaran berkesinambungan dari visi idealnya untuk tegaknya agama Islam dan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Gerakan dakwah yang dimaksud adalah Dakwah Islam Amar Makruf Nahi Munkar. Dakwah Islam; artinya mengajak, menyeru dan memanggil kepada umat manusia untuk memeluk dan melaksanakan serta menegakkan ajaran Islam. Amar makruf; artinya mengajak dan menunjukkan pada hal-hal yang baik, bermanfaat dan terpuji.Dan, Nahi Munkar; artinya mencegah, melarang, menolak, menjauhkan dan mengikis hal-hal yang buruk, kotor dan keji.

Aisyiyah bukan hanya sekadar nama besar sebagai salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia. ‘Aisyiyah memiliki jaringan stuktural yang cukup kuat dan luas di wilayah negeri ini yang sangat menunjang gerak dakwah yang dilakukannya.

Jaringan struktural ‘Aisyiyah tersebar dan berjenjang dalam beberapa level yang mempunyai kewenangan dan wilayah kerja masing-masing. Jaringan yang tersebar di seluruh daerah ini merupakan potensi yang sangat besar untuk membangun umat dan bangsa ini menuju masyarakat utama dalam bentuk sinergi dan jaringan yang kuat di beberapa bidang.

Jaringan struktural merupakan kontribusi ‘Aisyiyah yang sangat besar dalam mengakomodasikan warga dalam menyalurkan aspirasinya. Sekaligus juga mengkoordinasikan gerakan dakwah Islamiyah di seluruh daerah melalui berbagai aktivitas dakwah, seperti aktivitas keagamaan, pendidikan, kesejahteraan, sosial, kesehatan dan sebagainya.

Pengembangan dakwah Islam melalui dakwah jamaah dan dakwah kultural merupakan strategi dakwah masa kini. Stategi ini mengingat tantangan global, perkembangan teknologi, dan pola pikir umat yang semakin berkembang. Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui gerakan TIT ‘Aisyiyah dengan menggunakan pendekatan sumber daya manusia, pendekatan ekonomi dan kesejahteraan, pendekatan struktural serta pendekatan global.

Pendekatan sumber daya manusia melalui upaya mencerdaskan kehidupan umat. Pendekatan ekonomi dan kesejahteraan dilaksanakan dengan mengajarkan etos kerja yang tinggi. Pendekatan struktural tetap ditingkatkan dengan mewujudkan kegiatan politik dan birokrasi sebagai pendukung dan pelindung dakwah. Pendekatan global juga perlu dilakukan dengan berpikir makro dan mikro secara seimbang, beraktivitas lintas sektoral, membangun kolektivitas dan individual, umum maupun khusus, untuk kemaslahatan umat dunia.

Dalam melaksanakan gerakannya, penggarapan masyarakat umum atau individu yang telah beragama Islam dilakukan melalui gerakan TIT tersebut, yaitu Tajdidiyah, Islahiyah, dan Tabsyiriyah. Tajdidiyah; artinya pembaharuan, peningkatan dalam pemahaman agama atau mengembalikan ajaran agama sesuai tuntunan aslinya (Qur’an dan Sunnah). Islahiyah; artinya perdamaian, kerukunan atau persaudaraan dalam kemasyarakatan. Sedangkan, Tabsyiriyah; artinya penggembiraan, pembimbingan serta pemberian dorongan dalam beribadah dan beramal saleh.

Di antara bidang garap yang dapat diTITkan yaitu Ibadah, Akhlaq, Tauhid, Tabligh, Kegiatan Jihad, Persatuan dan Syi’ar Islam, Pendidikan, Seni dan Budaya, Kesehatan, Ekonomi, serta  amalan-amalan Islam lainnya dengan tujuan utama untuk mewujudkan pribadi muslim, mukmin dan mukhsin.

Misi Gerakan TIT ‘Aisyiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program dan kegiatan meliputi: menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengalaman serta menyebarluaskan ajaran agama Islam dalam segala aspek kehidupan; meningkatkan kualitas dan kuantitas pengkajian terhadap agama Islam; memperteguh iman, memperkuat dan menggembirakan ibadah, serta mempertinggi akhlak; meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infaq, shadaqah, wakaf, hibah, serta membangun dan memelihara tempat ibadah, dan amal usaha yang lain; meningkatkan pendidikan, membangun kebudayaan, memperluas ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menggairahkan penelitian; memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah perbaikan hidup yang berkualitas; meningkatkan dan mengembangkan kegiatan dalam bidang-bidang sosial, kesejahteraan masyarakat, kesehatan, dan lingkungan hidup; meningkatkan dan mengupayakan penegakan hukum , keadilan, dan kebenaran serta memupuk semangat kesatuan dan persatuan bangsa; meningkatkan komunikasi, ukhuwah, kerjasama di berbagai bidang dan kalangan masyarakat dalam dan luar negeri serta usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan organisasi.

Masing-masing masyarakat di Indonesia dengan keberagaman etnik, bahasa, agama dan adat istiadat telah memiliki mekanisme dan pengaturan sosial yang berbeda-beda. Namun demikian seluruh aktivitas tersebut dilakukan secara madiri dan mendorong partisipasi dalam kebersamaan. Bentuk-bentuk masyarakat partisipatif yang demikian inilah yang harus kita kembangkan agar kehidupan yang demokratis dapat ditopang oleh masyarakat madani.

Dalam hal tersebut, ‘Aisyiyah ikut memberikan jawaban atas berbagai permasalahan, baik problematika daerah , wilayah maupun global yang dari waktu ke waktu senantiasa mengalami pengembangan. Peran dan komitmen serta tanggung jawab ‘Aisyiyah semakin besar dan terbuka. Kehadiran dan keterpanggilan ‘Aisyiyah di setiap jengkal lahan amal di setiap kondisi merupakan wujud ‘Aisyiyah sebagai gerakan rahmatan lil ‘alamin.

DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, 2007,Jakarta,  Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XI,       Penerbit Erlangga

———-, 2008,Yogyakarta, Majalah Suara ‘Aisyiyah No. 11 Tahun ke-85, Yayasan Penerbit Pers ‘Aisyiyah

Tanya Jawab Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

www.aisyiyah-pusat.or.id

DATA DIRI

Nama        Lengkap         : Nur Azizah Fadhilah A.

Kelas                             : XII (Dua Belas)

Sekolah                         : Madrasah Muallimat ‘Aisyiyah Makassar

Alamat Sekolah              : Jalan Muhammadiyah  No. 68 B Makassar