IDENTIFIKASI DIRI SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL: 

KOMPLEKSITAS TINGKAH LAKU MANUSIA DALAM KEHIDUPAN PRIBADI DAN BERMASYARAKATImage

Seluruh kompleksitas tingkah laku manusia secara umum berwujud dalam tindakan yang saling terkait satu sama lain. Dalam antropologi, kompleksitas tingkah laku manusia yang saling terkait itu disebut dengan istilah sistem sosial (social system). Konsepsi sistem sosial menurut perspektif antropologi, yaitu :

  1. Kebiasaan (habit atau folkways)

Kebiasaan yaitu perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama. Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar daripada bahasan mengenai hubungan antar-individu dalam masyarakat. Kebiasaan yang diartikan sebagai perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama merupakan bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut. Sebagai contoh, kebiasaan menghormati orang yang lebih tua. Apabila perbuatan tersebut tidak dilaksanakan, maka akan dianggap sebagai suatu penyimpangan terhadap kebiasaan umum dalam masyarakat. Oleh karena itu, sanksi yang berlaku adalah cemoohan, ejekan, dan sinisme. Kebiasaan menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu kebiasaan dalam masyarakat dan setiap orang  akan menyalahkan penyimpangan terhadap kebiasaan umum tersebut. Menurut Maclver dan Page, kebiasaan merupakan perilaku yang diakui dan diterima oleh masyarakat.

  1. Kepribadian

Kepribadian memiliki banyak arti, bahkan dapat  dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.

ü  PENGERTIAN KEPRIBADIAN SECARA UMUM

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, yaitu kata yang  merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di zaman Romawi. Secara umum, kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya. Selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk karena bersifat netral.

Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).

ü  PENGERTIAN KEPRIBADIAN MENURUT BEBERAPA AHLI  SOSIOLOGI

a) Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang  jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan perilaku yang baku atau pola yang konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.

b) Menurut Schever Dan Lamm (1998)
mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau dikatakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang dialami.

ü  PENGERTIAN KEPRIBADIAN MENURUT BEBERAPA  AHLI  PSIKOLOGI

Definisi kepribadian menurut psikolog misalnya teori George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.

Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama.

Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

Dari sebagian besar teori kepribadian di atas, dapat kita ambil kesamaan sebagai berikut:

v  sebagian besar batasan melukiskan kepribadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai organisasi yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita.

v  sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah kepribadian, keunikan dari setiap individu mampu  dinyatakan. Dan melalui studi tentang kepribadian, sifat-sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami. Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik dan atau khas pada diri setiap orang.

v  sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut sejarah hidup, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut teori kepribadian merepresentasikan proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup faktor-faktor genetik atau biologis, pengalaman-pengalaman sosial, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan.

Seorang tersusun atas dasar jasmani dan rohani, di samping ada faktor tempramen, karakter, dan bakat vitalitas jasmani seseorang bergantung pada konstruksi tubuhnya yang terpengaruh oleh faktor-faktor hereditas sehingga keadaannya dapat dikatakan tetap atau konstan dan merupakan daya hidup yang sifatnya jasmani.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kepribadian

a) Warisan Biologis
warisan biologis adalah semua hal yang diterima seseorang sebagai manusia melalui gen kedua orang tuanya atau sifat turunan dari kedua orang tua .
Contohnya : ayah Darwis adalah seseorang yang tidak suka banyak berbicara dan suka berdiam diri, maka sifat itu tanpa disadari dimiliki juga oleh anaknya, Sam. Contoh lainnya adalah ayah Otis adalah seorang dengan tubuh yang sangat tinggi, maka kemungkinan Otis pun akan mengalami hal yang sama.

b) Lingkungan Fisik
pengaruh lingkungan atau  fisik terhadap kepribadian manusia paling sedikit dibandingkan faktor-faktor lainnya. Lingkungan fisik tidak mendorong terjadinya kepribadian khusus seseorang.

Pembagian kepribadian secara umum,yaitu:

1. Kepribadian Individu (Individual Personality)

Kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku     atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia. Dalam bahasa populer, istilah kepribadian juga disebut sebagai ciri-ciri watak secara fisik, konsisten dan konsekuen. Dengan kata lain, kepribadian merupakan indikasi akan adanya suatu identitas individu secara khusus dan spesifik.

2. Kepribadian Umum (Modal Personality)

Kepribadian umum adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku dan tindakan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut biasanya dibedakan berdasarkan suku bangsa dan tempat tinggal (lingkungan kebudayaan).

  1. Adat Istiadat (Customs)
  • Adat istiadat adalah seluruh pengetahuan, gagasan dan konsep yang secara umum hidup dalam masyarakat. Artinya bahwa pengetahuan, gagasan dan konsep tersebut dianut oleh sebagian besar warga suatu masyarakat. Oleh karena itu, adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya, dengan sanksi berupa pengusiran dari masyarakat. Misalnya pada kasus hubungan seksual di luar pernikahan.
  • Adatadalah aturan, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan dijunjung serta dipatuhi masyarakat pendukungnya. Di Indonesia aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia tersebut menjadi aturan-aturan hukum yang mengikat yang disebut hukum adat. Adat telah melembaga dalam dalam kehidupan masyarakat baik berupa tradisi, adat upacara dan lain-lain yang mampu mengendalikan perilau warga masyarakat dengan perasaan senang atau bangga, dan peranan tokoh adat yang menjadi tokoh masyarakat  menjadi cukup penting.
  • Adat merupakan norma yang tidak tertulis, namun sangat kuat mengikat sehingga anggota-anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan menderita, karena sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Misalnya pada masyarakat yang melarang terjadinya perceraian apabila terjadi suatu perceraian maka tidak hanya yang bersangkutan yang mendapatkan sanksi atau menjadi tercemar, tetapi seluruh keluarga atau bahkan masyarakatnya.

ANALISIS DIRI PRIBADI

Kebiasaan (habit)  saya:

 Adat Istiadat (custom) saya dalam lingkup sistem sosial*

1. senang bekerja sendiri 1. berperilaku dan berpakaian sopan
2. detail, rapi dan cermat dalam  mengerjakan      sesuatu 2. menjaga pergaulan dengan lawan jenis
3. pemalu, sulit berdaptasi di lingkungan baru 3. menjaga siri’/ rasa malu
4. selalu bersedia membantu, menanyakan apa yang perlu dikerjakan 4. saling menghormati integritas kepemimpinan laki-laki maupun perempuan
5. disiplin dan rajin 5. memberikan ruang dan pengakuan eksistensi bagi gender ketiga dan keempat (calabai dan calalai)

Deskripsi tentang kepribadian siri saya bila dihubungkan dengan kebiasaan (habit) saya:

Kepribadian saya secara umum bila dihubungkan dengan adat istiadat (custom) dalam lingkup sosial*:

1. analitis, menyukai keleluasaan dan ketenangan saat bekerja sendiri 1. patuh terhadap nilai-nilai kesopanan
2. menyukai keteraturan, realistis 2. menjaga dan membentuk pertahanan diri dari perbuatan tercela dalam norma agama (aspek religius) dan norma adat (aspek sosial)
3. introvert, tertutup 3. meneguhkan identitas sosial dan martabat dalam masyarakat
4. pragmatis, cepat tanggap dan berimprovisasi 4. menghargai kesetaraan gender
5.  taat aturan, tertib nilai 5. menempatkan budaya transvertitis dalam dalam dinamika sosial

*Kompleksitas tingkah laku manusia dalam perspektif budaya  Bugis

Setiap kelompok masyarakat nusantara membentuk dan memiliki budayanya sendiri. Demikian pula dengan masyarakat Bugis yang membentuk sekaligus memiliki budayanya sendiri yang secara sadar dijalankan secara kolektif dalam dinamika kemasyarakatan. Tentunya dalam upaya melanggengkan kebudayaan masyarakat terdahulu termasuk Bugis, mengapresiasikannya dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk tersebut mencakup budaya fisik yang terpatri dalam adat istiadat dan tradisi, serta budaya non-fisik yang mencakup nilai-nilai moral, religiusitas, dan filosofi yang dianut. Secara fisik, sebagian besar budaya Bugis terpatri dalam berbagai bentuk tradisi sastra, terutama berupa pappaseng ugi. Pappaseng ugi merupakan berbagai macam petuah dan nilai-nilai luhur  dalam tradisi Bugis yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan  dan masih tetap dapat dimanfaatkan pada masa sekarang dan  pada masa yang akan datang.

Terkhusus dalam masyarakat Bugis, konsepsi tentang sistem  tampak dari pappaseng ugi yang menjadi pegangan hidup dan berpengaruh terhadap sistem bilateral antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, berikut disajikan konsep gender yang tertuang dalam petuah Bugis:

  1. “ Hai perempuan, pagari dirimu demi kehormatanmu, hai pria pagari dirimu demi kesabaranmu.”

Pesan tersebut menyiratkan tentang anjuran bagi perempuan untuk senantiasa menjaga kehormatannnya. Kehormatan yang dimaksud tertuang dalam konsep siri’ yang berarti rasa malu. Dalam hal ini, orang yang tidak memiliki rasa malu atau mengabaikan kehormatannya, akan dianggap sebagai orang yang tidak bermartabat. Lebih jelasnya, orang yang dianggap tidak memiliki harga diri atau siri’ jka telah melakukan hal-hal yang tidak terpuji atau tidak terhormat.

  1. “ Jangan pernah duduk bersama (berdua-duaan) laki-laki dan perempuan, karena sifat berdua-duaan itu rawan dirasuki setan yang jahat.” (Lontara Luwu’)

Pada petuah tersebut, ditekankan kepada perempuan dan laki-laki Bugis untuk berdua-duaan demi menghindari perbuatan maksiat. Petuah tersebut merupakan salah satu petuah yang mendapat pengaruh dari akulturasi ajaran Islam. Selain sebagai sebuah penekanan sikap, petuah tersebut juga ditekankan untuk menghindari fitnah yang akan mencemari nama baik keluarga dalam masyarakat Bugis.

  1. Budaya Bugis tidak membatasi perempuan untuk berekspresi menjadi pemimpin. Satu di antara perempuan Bugis yang terkenal memperjuangkan kemerdekaan pada masa pemerintahan Belanda adalah Opu Daeng Siradju. Opu Daeng Siradju memperoleh gelar sebagai macan betina dari Timur, terbukti dengan beberpa kali beliau keluar-masuk penjara tetapi dalam dirinya tak sedikit pun rasa gentar terlebih lagi mundur sebelum Indonesia meraih kemerdekaan. Sehingga, dalam ruang-ruang kultural perempuan dan laki-laki Bugis terpatri konsep kesejajaran peran dan fungsi. Artinya, walaupun memiliki hak dan kewajiban yang sama, namun tetap terdapat batasan kerja individual yang terbentuk secara fitrawi.
  1. Selain sistem kekerabatan bilateral masyarakat Bugis yang memosisikan perempuan dengan laki-laki dalam struktur masyarakat, sistem gender masyarakat Bugis juga mengenal jenis gender ketiga dan keempat (calabai dan calalai). Fleksibilitas tersebut tergambar dalam ungkapan berikut:

“Meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan (calabai) dan perempuan, yang memiliki sifat kelaki-lakian adalah lelaki (calalai).”

Konsep tersebut merupakan pengejawantahan dari epik  Bugis yang menempatkan gender ketiga dan keempat sebagai pemimpin upacara adat dan keagamaan pada masa lampau. Sehingga, masyarakat Bugis menjadi struktur yang kompleks dengan mengakui gender ketiga dan keempat. Namun, sistem gender dalam masyarakat Bugis merupakan pola yang tidak berlaku secara universal. Kemampuan untuk menolerir gender ketiga dan keempat merupakan konsep gender yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Dalam dinamika sosial, keempat sistem gender tersebut memiliki peluang yang sama. Walaupun demikian, keempatnya tetap memiliki wilayah aktivitas tersendiri yang tidak dapat dicampuri oleh kelompok lainnya.

Dari pemaparan tersebut, konklusi mengenai gender masyarakat Bugis yang terpatri dalam pappaseng atau petuah, menggambarkan pluralitas dan fleksibilitas masyarakat Bugis dalam memandang setiap kelompok masyarakat. Setiap kelompok memiliki peranan yang dijalankan tanpa memarginalkan kelompok lain. Konsep inilah yan berlangsung secara simultan dan senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan kultur dan kesadaran masyarakat untuk menyesuaikannya dengan zaman.

Referensi:

Koentjaraningrat,Prof.Dr. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

http://antrop.html

Arham Rahman, Ernawati M. Dahlan,  Ainun Mardhiati. 2007. Konsep Gender dalam Petuah Bugis. Makassar: Universitas Negeri Makassar.