SINOPSIS FILM “GIE”

Film ini terinspirasi dari Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Film ini pun dibuat sebagai apresiasi terhadap perjuangannya sebagai seorang pahlawan aktivis yang menyuarakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai janji proklamasi. Perjuangan seorang intelektual muda idealis, kritis, dan memiliki cita-cita luhur bagi bangsanya tercinta.

Soe Hok Gie terlahir dari keluarga Tionghoa dengan strata ekonomi menengah di Jakarta. Sejak kecil, sikapnya yang kritis dan idealis mulai terbentuk dengan melihat realitas yang terdapat di tengah masyarakat. Realitas Indonesia yang tengah terjebak di antara perang dingin sekitar tahun 1950 hingga 1960an berdampak pada berdirinya gerakan komunisme di negeri ini. Gerakan tersebut terkoordinir dalam suatu partai yang dikenal dengan nama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Gie sering menuangkan gagasannya melalui media tulisan, yang akhirnya dikenal meluas melalui berbagai media massa. Dia berpikir bahwa para pemuda lah yang dapat mengawal perjuangan bangsa ini agar terlepas dari kesewenang-wenangan penguasa. Seperti halnya perjuangan Sutan Syahrir dan kawan-kawannya mendesak disegerakannya proklamasi untuk menegaskan kedaulatan Indonesia.

Semasa remaja, Gie dianggap sebagai pemberontak karena kekritisan dan ketegasan sikapnya.  Di bangku universitas, dia mulai menemukan teman-teman yang sepaham dengannya. Bersama mereka, Gie mendaki gunung dan berpetualang di hutan. Rutinitas tersebut merupakan awal berdirinya kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) pertama kali, yaitu di Universitas Indonesia. Pada mereka juga, Gie sering bercerita tentang pandangannya dalam hidup. Hingga akhirnya  dia menemukan wadah  untuk menyuarakan segala pemikirannya melalui senat fakultas. Dia dan kawan-kawannya pun sering menonton dan menganalisis film-film yang membentuk paradigma mereka.

Sepanjang karirnya sebagai orator, Gie mulai dilirik sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang anti politik konspirasi dan sering mengadakan kampanye underground. Pada suatu kesempatan bertemu dengan Soekarno, semakin menguatkan semangat idealismenya dengan melihat  realitas bahwa presiden Indonesia pertama itu seakan mewarisi karakteristik raja-raja Jawa. Demokrasi Terpimpin yang menggantikan era Revolusi digaungkan sebagai doktrin palsu tak berkesudahan.

Saat pergerakan PKI semakin bergejolak yang ditandai dengan penculikan Ahmad Yani, terjadi suatu kondisi high-level politic  di mana kelompok masyarakat terpecah menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Kubu pertama merupakan anti komunisme, sedangkan kubu kedua merupakan pro PKI. Di saat yang sama, Gie menemukan bahwa salah satu teman dekatnya  sejak kecil, Tan Tjin Han  justru memperkuat barisan komunis Indonesia.

Di tengah kondisi bangsa yang semakin tidak menentu, pemerintah berusaha mengalihkan perhatian masyarakat dengan menaikkan harga kebutuhan pokok. Gie beserta sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Senat Fakultas Sastra UI mengawal tuntutan masyarakat yang dipimpin oleh Ketua Senat, Herman Lantang. Akan tetapi, Tri Tuntutan Rakyat (TRITURA) gagal mewujudkan mimpi rakyat Indonesia pada pemerintahan yang bebas komunis, bahkan keberadaan PKI tetap dipertahankan dan harga kebutuhan pokok semakin menjulang.

Image

Di awal pemerintahan Orde Baru, cita-cita terhadap pemerintahan menuju ke arah yang lebih baik mulai menemukan titik terang. Parlemen dibersihkan dari antek-antek komunis dan kelompok fanatik Soekarno, serta dihapuskannya konsep Nasional, Agama, dan Komunis (NASAKOM) dari tubuh pemerintahan. Bagaimanakah akhir perjuangan Gie meruntuhkan kesewenang-wenangan rezim penguasa saat itu? Bagaimanakah dia berusaha mempertahankan idealismenya di tengah pandangan negatif orang-orang di sekitarnya, perselisihan dengan sahabatnya serta kisah asmaranya?